Kamis, 17 September 2026
Breaking News
Pegadaian Salurkan Bantuan Rp20 Juta untuk Renovasi Masjid Jami’ Al-Istiqomah Sumedang Pegadaian Salurkan Bantuan Rp20 Juta untuk Renovasi Masjid Jami’ Al-Istiqomah Sumedang Polda Jabar Limpahkan Tersangka dan Barang Bukti Kasus Dugaan Penyekapan YTR ke Kejari Kabupaten Bandung Ciparay Jadi Salah Satu Sentra Budidaya Ikan di Jawa Barat, Kembangkan Varietas Baru Ikan Nila Sumo STIE IBMT Surabaya Pertahankan Penghargaan Entrepreneurial Marketing Campus for Impact 2026 dari MCorp & MarkPlus Institute Polemik Tarif Masuk Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, DPRD Kabupaten Bandung Dorong Bupati Terbitkan Surat Edaran Resep Penyiar Radio Menjaga Kredibilitas di Udara, Menghibur Tanpa Kebobolan Etika Wisuda STIE IBMT Surabaya, Cetak 300 Lulusan Kompeten dan Berjiwa Entrepreneur Pegadaian dan POGI Gelar Program Merdeka Stunting 2026 di Bandung Dua Serdik Sespimma Amankan Penumpang yang Diduga Serang Sopir Grab dengan Pisau di Lembang Pegadaian Salurkan Bantuan Rp20 Juta untuk Renovasi Masjid Jami’ Al-Istiqomah Sumedang Pegadaian Salurkan Bantuan Rp20 Juta untuk Renovasi Masjid Jami’ Al-Istiqomah Sumedang Polda Jabar Limpahkan Tersangka dan Barang Bukti Kasus Dugaan Penyekapan YTR ke Kejari Kabupaten Bandung Ciparay Jadi Salah Satu Sentra Budidaya Ikan di Jawa Barat, Kembangkan Varietas Baru Ikan Nila Sumo STIE IBMT Surabaya Pertahankan Penghargaan Entrepreneurial Marketing Campus for Impact 2026 dari MCorp & MarkPlus Institute Polemik Tarif Masuk Rumah Pengabdi Setan di Pangalengan, DPRD Kabupaten Bandung Dorong Bupati Terbitkan Surat Edaran Resep Penyiar Radio Menjaga Kredibilitas di Udara, Menghibur Tanpa Kebobolan Etika Wisuda STIE IBMT Surabaya, Cetak 300 Lulusan Kompeten dan Berjiwa Entrepreneur Pegadaian dan POGI Gelar Program Merdeka Stunting 2026 di Bandung Dua Serdik Sespimma Amankan Penumpang yang Diduga Serang Sopir Grab dengan Pisau di Lembang
TrustJabar
Ruang Publik
Penulis: Publik30 Agt 2026

Resep Penyiar Radio Menjaga Kredibilitas di Udara, Menghibur Tanpa Kebobolan Etika

Tren di media sosial kerap menjadi bahan empuk untuk perbincangan di udara. Masalahnya, tidak semua hal yang viral di internet bersumber dari fakta. Penyiar yang beretika tidak akan menelan bulat-bulat tren tersebut demi mengejar kehebohan instan.

Resep Penyiar Radio Menjaga Kredibilitas di Udara, Menghibur Tanpa Kebobolan Etika. (Ilustrasi AI)

Resep Penyiar Radio Menjaga Kredibilitas di Udara, Menghibur Tanpa Kebobolan Etika. (Ilustrasi AI)

Oleh: YANTO PRASETYO ADHI

Dunia penyiaran radio hari ini bergerak sangat cepat. Di tengah gempuran media sosial dan arus informasi yang melimpah, seorang penyiar radio dituntut tidak hanya piawai menceriakan suasana, tetapi juga mampu mengemas informasi secara segar, relevan, dan memikat. Namun, di balik mikrofon yang menyala, ada tanggung jawab hukum dan moral yang mengintai. Leluasa berbicara bukan berarti bebas tanpa batas.

Baca Juga: Pentahelix dan Realitas Kabupaten Bandung, Saat Masalah tak Kunjung Selesai

Mengejar daya tarik (engagement) pendengar sering kali menjadi buah simalakama. Jika tidak berhati-hati, penyiar bisa dengan mudah tergelincir menabrak Kode Etik Jurnalistik (KEJ) serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI. Padahal, sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, media penyiaran dimanfaatkan untuk kepentingan publik dan menjunjung tinggi netralitas. Kredibilitas seorang penyiar justru dipertaruhkan dari sejauh mana mampu menjaga akurasi dan etika saat menyampaikan berita maupun rumor hangat.

Menepis Isu Viral Lewat Verifikasi Kilat

Tren di media sosial kerap menjadi bahan empuk untuk perbincangan di udara. Masalahnya, tidak semua hal yang viral di internet bersumber dari fakta. Penyiar yang beretika tidak akan menelan bulat-bulat tren tersebut demi mengejar kehebohan instan.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah penyaringan (fact-checking) secara cepat. Mengonfirmasi berita ke sumber tepercaya sebelum menyampaikannya ke publik merupakan amanat Pasal 2 KEJ tentang pengujian informasi dan akurasi. Menurut Masduki dalam buku Menjadi Broadcaster Profesional, keberanian menahan diri dari sensasionalisme dan memangkas dramatisasi yang tidak perlu justru menyelamatkan penyiar dari jebakan hoaks serta menjaga profesionalisme siaran.

Mengemas Fakta Lewat Storytelling yang Kuat

Mengikuti aturan etika tidak lantas membuat siaran terasa kaku atau membosankan seperti membaca teks formal. Kuncinya terletak pada seni penyampaian (packaging).

Dalam buku Broadcast Journalism, Andrew Boyd dkk. menekankan pentingnya mengubah data kering menjadi narasi yang hidup tanpa mendistorsi fakta. Fakta dapat dihubungkan langsung dengan konteks kehidupan sehari-hari pendengar. Penggunaan analogi sederhana, intonasi suara yang ekspresif, dan alur bercerita yang runtut mampu membangun suasana yang komunikatif tanpa harus mengada-ada atau memutarbalikkan fakta.

Menarik Garis Tegas Antara Fakta dan Opini

Saat membawakan acara, penyiar acap kali melakukan ad-libbing atau memberikan komentar spontan terhadap suatu peristiwa. Di titik inilah batas etika kerap kabur.

KEJ secara tegas mewajibkan insan pers dan penyiar berita memisahkan fakta dan opini. Pendengar harus bisa membedakan dengan jelas mana laporan fakta yang valid dan mana pandangan pribadi sang penyiar. Penggunaan kalimat penanda seperti "Berdasarkan data resmi dari..." untuk fakta, serta "Kalau menurut pandangan saya..." untuk opini, sangat membantu menjaga kejelasan informasi. Selain itu, penyiar wajib memegang teguh asas praduga tak bersalah sebagaimana diatur dalam Pasal 3 KEJ.

Menjadi Benteng Pertahanan saat Sesi Interaktif

Sesi telepon atau pembacaan pesan langsung dari pendengar menjadi salah satu segmen paling favorit untuk membangun kedekatan. Namun, segmen ini juga menyimpan risiko tinggi, mengingat respons pendengar berada di luar kendali penuh penyiar. Tidak jarang ada pendengar yang melontarkan ujaran kebencian, pencemaran nama baik, atau bahasa yang tidak pantas. Robert McLeish dan Jeff Link dalam buku Radio Production menggarisbawahi pentingnya peran penyiar sebagai gatekeeper dalam siaran langsung. Mekanisme penyaringan awal (pre-screening) wajib dilakukan sesuai panduan P3SPS KPI mengenai siaran interaktif. Jika terjadi hal tak terduga secara spontan di udara, penyiar harus sigap, tegas, dan tetap sopan dalam mengalihkan pembicaraan kembali ke koridor yang aman.

Aset Tertinggi Penyiar

Pada akhirnya, menyajikan informasi menarik dan menjunjung tinggi etika penyiaran bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang. UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan informasi berjalan seiring dengan tanggung jawab moral kepada publik. Etika bukanlah penghambat kreativitas, melainkan panduan agar siaran tetap berada di jalur yang benar. Di tengah riuhnya industri media, penyiar yang dinamis, akurat, dan beretika akan selalu memiliki tempat istimewa di hati pendengarnya. Sebab pada akhirnya, kepercayaan pendengar adalah aset terbesar yang menjaga eksistensi seorang penyiar di udara. (*/trustjabar/R3)

Komentar

0 komentar untuk Resep Penyiar Radio Menjaga Kredibilitas di Udara, Menghibur Tanpa Kebobolan Etika

Masuk dulu untuk ikut diskusi

Akun pembaca dipakai khusus untuk komentar artikel.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memulai diskusi.