Implementasikan Falsafah Sunda Leuweung Hejo Rahayat Ngejo, Mantan Bupati Bandung Bagikan Ratusan Bibit Pohon Produktif
Momentum Hari Jadi Kabupaten Bandung ke 385 tahun 2026 harus dimaknai sebagai ajakan kolektif memperkuat kesadaran ekologis masyarakat.
Seorang petani berjalan di tengah rimbunnya pohon kakao di kawasan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: cep/trustjabar
trustjabar.com – Penanganan dampak bencana hidrometeorologi cuaca ekstrem yang melanda kawasan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memerlukan langkah nyata. Bencana banjir dan rusaknya ekosistem kawasan hulu air, menjadi pengingat bagi setiap orang agar turut berperan aktif menjaga lingkungan.
Baca Juga : Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem Sergap Kabupaten Bandung, Bupati Ubah Rencana Peringatan Hari Jadi
Melalui falsafah Sunda “Leuweung Hejo, Rahayat Ngejo”, mantan Bupati Bandung 2010-2020, Dadang M Naser, menyalurkan ratusan bibit pohon produktif. Falsafah tersebut bukan sekadar isapan jempol belaka. Akan tetapi memiliki nilai dan makna yang sangat berarti agar manusia bisa berdampingan secara harmonis dengan alam. Sehingga, dampak kerusakan alam pun tidak membawa bencana bagi kehidupan manusia.
Terlebih saat ini bencana hidrometeorologi cuaca ekstrem sedang melanda kawasan Kabupaten Bandung. Ribuan rumah warga terendam banjir dan warga terdampak pun terpaksa mengungsi. Terlebih wilayah yang terendam banjir itu merupakan akses utama mobilitas warga. Akibatnya, rutinitas masyarakat pun terganggu bahkan nyaris lumpuh.
Di satu sisi, tepat pada 20 April 2026 Kabupaten Bandung memperingati hari jadinya ke 385. Untuk itu, Dadang Naser menilai, penyaluran bibit pohon produktif ini menjadi upaya menumbuhkan kesadaran kolektif sosial masyarakat untuk berperan aktif melestarikan lingkungan.
“Di tengah kondisi bencana banjir yang masih melanda Kabupaten Bandung, semangat kepedulian lingkungan terus digelorakan. Saya selalu mengingatkan semua pihak agar bersama-sama berperan aktif pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem,” ungkap Dadang, Senin (20/4/2026).
Pembagian bibit pohon produktif ini juga, lanjut Dadang, sebagai langkah nyata sekaligus ajakan kepada semua pihak menjaga lingkungan. Dadang menegaskan, aksi pembagian bibit pohon ini bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang semakin tertekan, khususnya akibat alih fungsi lahan dan degradasi kawasan resapan air.
“Ini bukan hanya kegiatan seremonial. Kami sengaja menyalurkan ratusan bibit pohon produktif sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan. Pohon-pohon ini harus ditanam, dirawat, dan dijaga bersama, karena dari sinilah kita membangun kembali keseimbangan alam. Leuweung hejo, rahayat ngejo (hutan hijau--lestari--, rakyat sejahtera),” ucapnya.
Ancaman Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem, Momentum Hari Jadi Kabupaten Bandung Perkuat Kesadaran Ekologis Masyarakat
Anggota Komisi IV DPR RI ini juga mengajak, momentum Hari Jadi Kabupaten Bandung ke 385 tahun 2026 harus dimaknai sebagai ajakan kolektif memperkuat kesadaran ekologis masyarakat. Terlebih di tengah ancaman bencana hidrometeorologi cuaca ekstrem yang terus berulang setiap tahun.
“Banjir yang terjadi hari ini adalah alarm bagi kita semua. Maka peringatan hari jadi jangan hanya dirayakan, tapi harus menjadi gerakan. Gerakan menanam, merawat, dan menjaga lingkungan secara konsisten,” ujarnya.
Baca Juga : Pentahelix dan Realitas Kabupaten Bandung, Saat Masalah tak Kunjung Selesai
Sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, kehutanan, dan lingkungan hidup, Dadang juga menyoroti bahwa pelestarian keanekaragaman hayati tidak bisa dilakukan secara instan. Ia menekankan pentingnya pendekatan jangka panjang yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Menanam itu baru langkah awal. Banyak program penghijauan gagal karena berhenti pada kegiatan seremonial. Padahal yang paling penting adalah setelah itu bagaimana pohon itu hidup, tumbuh, dan memberi manfaat. Di situlah letak keberhasilan sesungguhnya,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan reforestasi sangat bergantung pada sistem pemeliharaan yang baik, keterlibatan masyarakat. Tentunya dengan dibarengi adanya monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan.
“Kita harus ubah pola pikir. Jangan lagi bangga hanya pada jumlah bibit yang ditanam. Yang harus kita kejar adalah berapa banyak yang hidup dan berkembang. Karena satu pohon yang hidup jauh lebih bernilai daripada seribu yang ditanam tapi mati,” ungkap Dadang Naser.
Bakal Berdampak Pengurangan Risiko Banjir Kabupaten Bandung
Dadang optimistis, jika gerakan penanaman pohon dilakukan secara masif dan diiringi dengan pemeliharaan yang konsisten, maka dampaknya akan signifikan terhadap pengurangan risiko banjir di Kabupaten Bandung.
Baca Juga : Sebanyak 13 Kecamatan di Kabupaten Bandung Terdampak Bencana Hidrometeorologi Cuaca Ekstrem
“Kalau kita serius menanam dan merawat, memperbaiki kawasan hulu, menjaga resapan air, maka perlahan risiko banjir bisa ditekan. Ini investasi jangka panjang untuk generasi mendatang,” tuturnya.
Lebih jauh, ia juga mendorong pentingnya kaderisasi pelaku lingkungan di tingkat masyarakat sebagai ujung tombak keberlanjutan program penghijauan.
“Kita butuh kader lingkungan yang tidak hanya bisa menanam, tapi juga memahami fungsi ekologis pohon, menjaga, dan merawatnya dengan penuh tanggung jawab. Ini soal membangun ekosistem, bukan sekadar mengejar target angka,” ungkapnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, hingga dunia usaha untuk bersama-sama menjadikan momentum Hari Jadi ke-385 Kabupaten Bandung sebagai titik balik gerakan lingkungan yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan. (cep/trustjabar/R1)
Komentar
0 komentar untuk Implementasikan Falsafah Sunda Leuweung Hejo Rahayat Ngejo, Mantan Bupati Bandung Bagikan Ratusan Bibit Pohon Produktif
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.