Selasa, 26 Mei 2026
Breaking News
Hormati Jejak Sejarah, Jabar Terbaik dalam Anugerah Kearsipan 2026 Bukan di Udara, Ini Alasan Penguin Pilih Terbang di Dalam Lautan ‘MengEMASkan Indonesia’, PT Pegadaian Catatkan Kinerja Gemilang di Awal 2026 Bukan Keluarga Beruang, Inilah Fakta Unik Panda Merah yang Menggemaskan Hilang Kontak Ketika Jalankan Misi Kemanusiaan, Bupati Bandung Kecam Tindakan Tentara Israel Terhadap Jurnalis Asal Cicalengka Punggawa Persib Bandung Bersiap Hadapi Persijap Jepara di Laga Pamungkas, Target Raih Kemenangan Jelang Laga Persib Bandung Menjamu Persijap Jepara, Wagub Jawa Barat Imbau Ini! Kirab Milangkala Tatar Sunda Selesai, Gubernur Jawa Barat Kembali Serahkan Pusaka Mahkota Binokasih Bencana Hidrometeorologi Basah Masih Mengintai, BNPB Keluarkan Imbauan Ini! Dukungan Mengalir, Sugianto Bulatkan Tekad Ramaikan Bursa Pencalonan Ketua di Musda Golkar Kabupaten Bandung Hormati Jejak Sejarah, Jabar Terbaik dalam Anugerah Kearsipan 2026 Bukan di Udara, Ini Alasan Penguin Pilih Terbang di Dalam Lautan ‘MengEMASkan Indonesia’, PT Pegadaian Catatkan Kinerja Gemilang di Awal 2026 Bukan Keluarga Beruang, Inilah Fakta Unik Panda Merah yang Menggemaskan Hilang Kontak Ketika Jalankan Misi Kemanusiaan, Bupati Bandung Kecam Tindakan Tentara Israel Terhadap Jurnalis Asal Cicalengka Punggawa Persib Bandung Bersiap Hadapi Persijap Jepara di Laga Pamungkas, Target Raih Kemenangan Jelang Laga Persib Bandung Menjamu Persijap Jepara, Wagub Jawa Barat Imbau Ini! Kirab Milangkala Tatar Sunda Selesai, Gubernur Jawa Barat Kembali Serahkan Pusaka Mahkota Binokasih Bencana Hidrometeorologi Basah Masih Mengintai, BNPB Keluarkan Imbauan Ini! Dukungan Mengalir, Sugianto Bulatkan Tekad Ramaikan Bursa Pencalonan Ketua di Musda Golkar Kabupaten Bandung
Gaya Hidup Serba Serbi
Penulis: Iman 05 Sep 2025

Kaset Pita; Dari Primadona Musik hingga Ikon Nostalgia

Sebelum layanan streaming digital menguasai dunia musik,  kaset pita sempat merajai industri hiburan global dan gaya hidup.

Kaset pita yang dulu menjadi primadona,, kini jadi ikon nostalgia.

Kaset pita yang dulu menjadi primadona,, kini jadi ikon nostalgia.

trustjabar.com - Sebelum layanan streaming digital menguasai dunia musik,  kaset pita sempat merajai industri hiburan global. Media berbentuk kotak plastik kecil berisi pita magnetik ini bukan hanya berfungsi sebagai penyimpan lagu, tetapi juga menghadirkan gaya hidup yang khas di masanya.

Baca Juga: Puaskan Pengguna, Google Terus Update Fitur Edit Gambar di Gemini 2,5 Flash Image

Kaset pita lahir pada tahun 1963 di Eropa melalui inovasi perusahaan Philips. Teknologi sederhana namun revolusioner ini memungkinkan pita magnetik merekam suara dan memutarnya kembali.

Setahun kemudian, kaset pita mulai memproduksi secara massal berawal di Hanover, Jerman. Tak butuh waktu lama untuk menembus pasar Amerika Serikat. Dengan sistem side A dan side B, satu kaset bisa memuat hingga belasan lagu.

Format praktis ini membuat masyarakat berbondong-bondong meninggalkan piringan hitam yang besar dan kurang fleksibel. Pada era 1970–1990-an, kaset mencapai puncak kejayaannya dan benar-benar mendominasi industri musik.

Seiring waktu, kaset tidak berhenti berinovasi. Penggunaan teknologi Dolby pada 1970-an membantu mengurangi noise dan membuat suara lebih jernih. Selain itu, produsen mulai menggunakan pita berbahan oksida logam agar hasil rekaman semakin berkualitas. Hal ini membuat musisi dunia, termasuk di Indonesia, memilih kaset sebagai media utama untuk merilis karya.

Masa Keemasan Kaset Pita

Puncak popularitas kaset terjadi pada dekade 1980-an. Kehadiran pemutar portabel Sony Walkman membuat kaset semakin digemari. Dengan Walkman, anak muda bisa mendengarkan musik kapan saja, di mana saja.

Di Indonesia, kaset menggeser dominasi piringan hitam rilisan Lokananta. Dari era kaset lahir deretan album legendaris milik Dewa 19, Jamrud, hingga Padi yang terjual jutaan kopi. Tidak heran jika masa itu sering adalah era emas industri musik Tanah Air.

Kaset di masa jayanya hadir dalam dua versi. Kaset original tampil eksklusif dengan sampul berisi lirik lagu, foto musisi, serta ucapan terima kasih. Sementara itu, kaset bajakan beredar dengan harga jauh lebih murah, meski kualitas suara dan kemasan seadanya.

Baca Juga: Kelahiran Anak Harimau Benggala Tambah Koleksi Satwa di Bandung Zoo

Di awal 2000-an, kaset original biasanya dijual Rp15.000–Rp20.000, sedangkan bajakan hanya Rp5.000. Selain kaset album, kaset kosong juga populer karena memberi kesempatan bagi penggemar untuk merekam lagu favorit dari radio atau menyalin koleksi teman.

Kaset bukan sekadar media musik, melainkan simbol gaya hidup. Banyak orang membawa radio kaset ke berbagai tempat, bahkan ada yang memanggulnya di bahu sambil berjoget. Fenomena unik lainnya adalah "pensil dan kaset".

Pensil sering alat familiar untuk menggulung kembali pita yang kusut, sebuah trik sederhana yang membuat generasi kaset tersenyum saat mengenangnya. Meski pita kaset kerap putus dan harus disambung dengan lem atau solatip, daya tariknya tidak pernah pudar. Walkman tetap menjadi ikon anak gaul 1990-an yang selalu ingin tampil trendi dengan musik di telinga.

Hari ini, kaset pita memang tidak lagi menjadi raja. Kehadiran CD, MP3, hingga streaming digital perlahan meminggirkan perannya. Namun, bagi sebagian orang, kaset tetap menyimpan nilai emosional.

Ia menjadi bagian dari perjalanan sejarah musik sekaligus simbol nostalgia yang mengingatkan kita pada masa ketika memutar musik bukan hanya soal mendengarkan, tetapi juga tentang gaya hidup. (Iman/trustjabar/R3)

Komentar

0 komentar untuk Kaset Pita; Dari Primadona Musik hingga Ikon Nostalgia

Masuk dulu untuk ikut diskusi

Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memulai diskusi.