Sabtu, 04 April 2026
Breaking News
Infrastruktur Jalan Masih Jadi Kendala Aksesibilitas Menuju Lokasi Wisata di Kabupaten Bandung Bupati Paparkan Isu Strategis Ini Masuk Program Prioritas RKPD 2027 Pemkab Bandung Fakta Unik Warna pada Buah, Bukan Sekadar Pigmen Alami Mengupas El Nino Godzilla yang Bakal Melanda Wilayah Indonesia PIHPS Bank Indonesia Catat Harga Sejumlah Komoditas Pangan Utama Merangkak Naik Ancaman Badai El Nino, Pemerintah di Seluruh Asia Tenggara Berpacu Amankan Pasokan Pangan Inilah Alasan Pasirnanjung Sumedang Jadi Wilayah Binaan Pertama Program Pegadaian Peduli Desa Video Dampak Gempa Bumi Tektonik yang Mengguncang Kota Bitung Sulawesi Utara Gempa Bumi Tektonik M7,6 di Kota Bitung, Seorang Warga Meninggal dan Beberapa Infrastruktur Rusak Bandung Bedas Expo 2026 Jadi Momentum Kebangkitan Ekonomi Lokal Kabupaten Bandung Infrastruktur Jalan Masih Jadi Kendala Aksesibilitas Menuju Lokasi Wisata di Kabupaten Bandung Bupati Paparkan Isu Strategis Ini Masuk Program Prioritas RKPD 2027 Pemkab Bandung Fakta Unik Warna pada Buah, Bukan Sekadar Pigmen Alami Mengupas El Nino Godzilla yang Bakal Melanda Wilayah Indonesia PIHPS Bank Indonesia Catat Harga Sejumlah Komoditas Pangan Utama Merangkak Naik Ancaman Badai El Nino, Pemerintah di Seluruh Asia Tenggara Berpacu Amankan Pasokan Pangan Inilah Alasan Pasirnanjung Sumedang Jadi Wilayah Binaan Pertama Program Pegadaian Peduli Desa Video Dampak Gempa Bumi Tektonik yang Mengguncang Kota Bitung Sulawesi Utara Gempa Bumi Tektonik M7,6 di Kota Bitung, Seorang Warga Meninggal dan Beberapa Infrastruktur Rusak Bandung Bedas Expo 2026 Jadi Momentum Kebangkitan Ekonomi Lokal Kabupaten Bandung
Ruang Publik
Penulis: TrustJabar 18 Des 2025

Avatar AI dan Editing Aesthetic, Identitas Baru Gen Z di Media Sosial

Belakangan ini di media sosial, konten aesthetic dan avatar AI telah menjadi tren besar di kalangan remaja dan mahasiswa.

Mizaluna Bilqis Arifin Opini

Mizaluna Bilqis Arifin Opini

[caption id="attachment_4682" align="alignleft" width="207"]Mizaluna Bilqis Arifin Opini Mizaluna Bilqis Arifin[/caption]

BANDUNG - Di era media sosial yang super cepat seperti sekarang, tampilan visual semakin punya peran besar dalam cara Gen Z menunjukkan dirinya. Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan bahkan WhatsApp Status, sudah bukan lagi sekadar tempat berbagi momen biasa, tapi juga ruang untuk mengekspresikan identitas dan membangun citra diri. Tren ini mencerminkan perubahan dalam opini publik, di mana visual bisa menjadi bahasa utama komunikasi digital.

Belakangan ini, konten aesthetic dan avatar AI telah menjadi tren besar di kalangan remaja dan mahasiswa. Banyak orang berlomba-lomba mengedit foto dengan efek lucu, warna pastel, tema dreamy, hingga avatar AI yang terlihat seperti karakter film animasi. Banyak yang bilang, kalau kontennya aesthetic, otomatis lebih "punya nilai" dan mudah viral.

Dalam pengamatan saya pribadi, tren ini bukan hanya bentuk kreativitas, tetapi juga mencerminkan bagaimana opini publik bekerja di zaman sekarang ini. Masyarakat digital perlahan membangun persepsi bersama bahwa konten yang rapi, aesthetic, dan yang mengikuti tren lebih layak diperhatikan. Pada titik tertentu, standar ini menciptakan dorongan bagi banyak pengguna untuk menampilkan versi diri yang “ideal”. Versi yang dinilai sesuai selera publik. Saya sendiri sering merasa ragu ketika ingin mengunggah foto apa adanya, karena secara tidak langsung merasa perlu menyesuaikan dengan standar visual yang terlanjur dianggap normal di media sosial.

Salah satu contoh yang paling terlihat adalah gaya visual adik kelas saya saat di SMK, Namanya Novi dengan akun Instagram (@noviftrini_). Ia konsisten menggunakan konsep editing aesthetic dalam setiap unggahannya. Jika dilihat dari beberapa fotonya, seperti yang terlihat pada gambar sebelumnya di atas. Polanya sangat khas. Ia sering menggunakan tone warna pastel, elemen visual lucu seperti karakter avatar atau sticker digital, serta memanfaatkan properti besar atau objek hasil manipulasi editing, seperti gelas minuman oversized, sayap kupu-kupu digital, atau papan warna Pantone. Dalam foto lainnya, ia juga menggunakan avatar AI yang menyerupai dirinya, memperkuat kesan playful, cute, dan identitas visual yang seragam.

Saat saya bertanya tentang proses editing-nya, ia bercerita bahwa semua visual tersebut dihasilkan melalui aplikasi yang memudahkan pembuatan gaya konsisten dan aesthetic. Baginya, aesthetic bukan hanya soal warna lembut atau gaya yang “cantik,” tetapi tentang identitas digital, bagaimana seseorang menampilkan dirinya melalui visual yang khas dan mudah dikenali. Dari perspektif opini publik, hal ini menunjukkan bahwa identitas tidak lagi dibangun dari apa yang seseorang katakan saja, tetapi dari bagaimana ia mengemas dirinya secara visual di media sosial. Editing, tone warna, dan avatar AI menjadi alat pembentuk citra, dan citra inilah yang kemudian memengaruhi kesan publik secara kolektif.

Editing Aesthetics dan Avatar AI di Media Sosial, Antara Kreativitas dan Pandangan Publik

Dalam pandangan saya, tren ini juga membawa konsekuensi seperti munculnya tekanan untuk selalu tampil sempurna. Banyak orang merasa enggan memposting foto yang dianggap “kurang niat,” meski foto tersebut lebih merepresentasikan diri mereka apa adanya. Kemudian visual ini mengambil alih dalam menilai kualitas seseorang, seolah-olah karakter dan kepribadian dapat dirangkum dalam tone warna dan komposisi feed saja. Di sinilah opini publik bekerja. Persepsi bersama yang berulang-ulang diperlihatkan melalui algoritma membuat standar estetika tertentu menjadi norma baru yang harus diikuti.

Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh bersama media sosial, saya merasakan kuatnya pengaruh standar estetika ini. Ada kalanya saya sadar bahwa keinginan mengedit foto bukan lagi soal mempercantik, tetapi agar tidak merasa “ketinggalan” dari selera umum. Tren editing aesthetic dan avatar AI akhirnya bukan hanya tren kreatif, tetapi proses pembuatan opini publik itu sendiri. Publik membentuk standar, standar memengaruhi individu, individu lalu kembali memperkuat standar melalui postingan mereka.

Pada akhirnya, aesthetic dan avatar AI bukanlah sesuatu yang salah. Keduanya dapat menjadi media berekspresi, meningkatkan kreativitas, dan bahkan membantu seseorang lebih percaya diri. Namun, perlu disadari pula bahwa budaya visual ini membentuk persepsi bersama tentang nilai dan identitas. Media sosial telah memperluas cara kita dinilai. Bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga dari tampilan yang muncul di layar orang lain. Bagi saya pribadi, hal terpenting adalah menyadari bahwa konten yang kuat bukan hanya yang aesthetic, tetapi yang memiliki karakter jujur dalam menampilkan diri.***

Mizaluna Bilqis Arifin, mahasiswa Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Jurusan Ilmu Komunikasi

Disclaimer : Tulisan dan foto dalam artikel Ruang Publik/Opini ini merupakan kiriman penulis dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Komentar

0 komentar untuk Avatar AI dan Editing Aesthetic, Identitas Baru Gen Z di Media Sosial

Masuk dulu untuk ikut diskusi

Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memulai diskusi.